Jumat, November 07, 2014

GALAU YES, PUTUS ASA NO

Seorang sahabat baik saya pernah berkelakar, ‘masa motivator galau’, kurang lebih begitu katanya. Dan jleeeeeb. Itu membuat kadar sai galau semakin bertambah. Semula saya begitu serius menanggapi candaan itu. Saya merasa ‘berdosa’, memotivasi agar orang lain tak galau sementara sendirinya sering dihampiri rasa tak menentu itu. Namun, setelah dipikir-pikir, apa ada orang yang tak pernah galau selama hidupnya?
Galau memang tak pandang bulu. Virusnya bisa menjangkiti siapa saja, tua, muda, kerja, nganggur, atasan, bawahan, dan bahkan kapan saja tak peduli ruang juga waktu. Sesungguhnya mahluk seperti apa galau itu?
Secara umum, banyak yang mengaritkan galau semacam perasaan yang tak nyaman, gundah, gelisah, sedih, menyesal, bingung, dan sebagainya. Semua rasa itu biasanya merupakan akibat dari keadaan silit, kesusahan, permasalahan yang sedang dialami seseorang.
Mengingat hampir mustahil manusia tak berjumpa dengan masalah, lantas apakah bisa disimpulkan hampir mustahil pula bahwa tak mungkin manusia bebas dari kegalauan? Dalam perenungan itu saya menemukan Firman Allah dalam surat al-Ma´aarij [70: 19], yang menyebutkan bahwa, ‘Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir’.
Teringat dengan candaan sahabat baik yang saya ceritakan di atas, ‘teguran’ yang ia sampaikan memang ada benarnya. Harusnya sang pemberi nasehat tak boleh galau. Tapi, bagaimana jika saya terlanjur mengalaminya (galau), haruskah saya berhenti memotivasi? Haruskah saya menyalahkan diri sendiri dan merasa berdosa? Pasti tak semestinya begitu, ingat bahwa kita tercipta sebagai mahluk yang suka berkeluh kesah.
Lantas bukan ini menjadi pembenaran untuk terlarut dalam kegalauan yang tak berkesudahan. Galau boleh dan mungkin kita perlu nikmatinya sesekali waktu. Tapi bukankah kita harus berubah. Galau boleh, yang terlarang adalah berputus asa untuk move ON. Allah ingatkan kita dalam surat Yusuf [12: 87], ‘…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.’
Akhirnya, penting untuk selalu berdoa, terutama saat membaca surat al-Fatihah [1: 7], yang kita baca berulang-lang dalam shalat, agar terhindar dari ‘jalan yang sesat’. Saya lebih senang menyampaikan doa ‘anti galau’ itu dalam kalimat sebagai berikut: ‘Ya Allah, tunujukkanlah aku jalan yang lurus. (Yaitu) jalan mereka yang telah Engkau karuniakan nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Bukan pula jalan mereka-mereka yang sesat, galau, dan disorientasi. Ya Allah, perkenankanlah doa ku.' Wallahu ‘Alam Bissawab.
Salam Powerful!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07

Selasa, November 04, 2014

JANGAN AMBIL KEBERANIANKU

Sewaktu kecil, pernah saya dilarang dan ‘ditakut-takuti’ oleh paman saat coba main-mainkan sebuah gitar. ‘Eh, jangan’, paman saya coba melarang. ‘Nanti rusak. Itu gitar bagus, jangan asal mainin. Nanti kamu dimarahi lho’, lanjutnya coba menakuti. Itu ampuh, meski penasaran, saya urungkan niat untuk coba-coba mainkan gitar itu.
Larangan sang paman ‘membekas’ hingga saat ini. Saya ragu mencoba, takut bagaimana jika rusak, takut dimarahi, dan sebagainya. Celakanya, ketakutan itu tak hanya berlaku untuk gitar. Pernah saya merasa takut untuk mengoprasikan computer, saya takut salah pencet tombol. Akibatnya, waktu dulu kuliah, saya cukup lama menjadi mahasiswa gaptek alias gagap teknologi. Tahukah Anda, tanpa sadar sang paman telah mengambil ‘keberanian’ ponakannya.
Sebagai orang tua, kadang secara tak sengaja melakukan hal serupa pada anak. Melarang, menakuti, bahkan ‘menyakiti’ bila mereka ‘nakal’ atau melakukan kesalahan. Tak seharusnya orang tua mengambil ‘keberanian’ anak. Berlebihan menyikapi anak bukan hanya ‘mencelakai’ mereka, tapi melahirkan penyesalan yang mendalam. Kisah inspiratif berikut semoga memberi penyadaran bagaimana bersikap. Cerita ini saya dapat dari sebuah blog dan saya tulis ulang dalam versi sendiri. Berikut ceritanya.
Ada sepasang suami isteri yang sibuk bekerja. Mereka meninggalkan putri cantiknya yang berusia tiga setengah tahun bersama si bibi (orang yang biasa membantu di rumah mereka). Anak tunggal pasangan ini bernama Cinta. Dia gadis kecil yang lucu, cerdas, dan lincah. Meski ada si bibi, tapi pekerjaan yang cukup banyak membuat bibi sibuk di dapur dan sering meninggalkan Cinta bermain sendirian.
Suatu hari, pasangan suami istri itu berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan Ibu Kota. Mobil barunya ditinggalkan di garasi rumah. Sementara Cinta yang lucu, menghabiskan waktunya bermain bersama ayun-ayunan, boneka, dan kadang memetik bunga di halaman rumah. Saat asik bermain, Cinta melihat paku yang berkarat. Ia coba menggoreskan paku itu ke mobil baru ayahnya. Semangat sekali ia melukis, mula-mula di sisi kiri lalu ke kanan mobil. Cinta melukis ibu dan ayahnya, dirinya sendiri, melukis ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imaginasinya.
Sore harim saat pulang kerja, terkejutlah sang ayah melihat mobil barunya yang sudah penuh goresan itu. Sang ayah marah besar dan berteriak, ‘Kerjaan siapa ini?’ Mendengar itu, si bibi kaget dan segera berlari keluar. Bibi ketakutan, lebih-lebih melihat wajah tuannya yang sangat marah. ‘Saya tidak tau tuan’, si bibi bicara sambil terbata. ‘Bibi di rumah sepanjang hari, apa saja yg bibi lakukan?’ sang istri pun ikut-ikutan memarahi.
Cinta yang sedang berada di kamar, saat mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari ke luar. Dengan manja ia berkata ‘Cinta ayah yang membuat gambar itu, baguskan?’ akunya manja sambil memeluk sang ayah. Ayah yang terlanjur marah lalu mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, kemudian berkali-kali dipukulkannya ke tangan putri kecilnya itu. Cinta yang belum mengerti, menagis kesakitan juga ketakutan. Sementara ibunya hanya diam seakan mengamini perbuatan suaminya.
Cukup lama sang ayah memukul tangan kanan dan kiri anaknya. Sore itu, kedua tangan Cinta yang mungil memar, luka, dan berdarah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan putri kecil itu bengkak dan mulai bernanah. Si bibi mengadukan itu pada majikannya. ‘Oleskan obat saja! jawab sang ayah singkat.
Tiga hari berlalu, baik ayah atau ibunya tak peduli terhadap kondisi Cinta. Meski berkali-kali si bibi melaporkan kondisinya, suami istri tetap acuh. ‘Cinta demam, Bu’, kata si bibi. ‘Beri minum obat saja!’ jawab sang ibu. Semakin hari, kondisi Cinta ternyata makin memburuk. Panasnya bukan turun, tapi malah semakin menjadi. Kembali si bibi melaporkan itu kepada majikannya.
Gadis kecil yang selalu ceria itu kini tampak begitu lemah, wajahnya pucat, badannya panas, kadang mengggil. Ketika dibawa ke klinik, ternyata dokter menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. ‘Kondisi anak bapak sudah sangat serius, harus dirujuk ke rumah sakit’, ucar dokter. Setelah dirawat intensif di rumah sakit, dokter yang menangani Cinta akhirnya memanggil orang tuanya.
Kepada mereka, dokter mengatakan, ‘Tidak ada pilihan’, kedua tangan putri anda harus diamputasi karena sakitnya sudah terlalu parah. Ini sudah bernanah, dan demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah’, tegas dokter. Mendengar itu, kedua suami istri itu terdiam dan tak kuasa menahan tangis. Terasa dunia berhenti berputar. Mereka menyesal, tapi apa yang dapat dikatakan lagi.
Sang ibu meraung merangkul putri kecilnya. Berat hati sang ayah dengan tangan bergetar menandatangani surat persetujuan operasi. Setelah selesai, saat obat bius yang disuntikkan habis, Cinta menangis kesakitan. Dia heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Sambil menahan sakit dan berlinang air mata, gadis kecil itupun berucap, ‘Ayah, Ibu, Cinta tidak akan melakukannya lagi, Cinta janji. Cinta akan menuruti kata-kata ayah, Cinta tak mau lagi ayah pukul, Cinta takut, Cinta takut. Cinta sayang ayah, Cinta sayang ibu.’ Gadis kecil itu tak berhenti menangis.
Tak lama kemudian ia kembali berkata, ‘Ayah, kembalikan tangan Cinta. Untuk apa diambil? Cinta janji tidak akan mengulanginya lagi. Bagaimana caranya Cinta mau makan nanti? Bagaimana Cinta mau bermain nanti? Cinta janji tidak akan mencoret-coret mobil ayah lagi’, maafkan Cinta ayah, katanya berulang-ulang dan masih tetap menangis.
Kadang sering kita dibuat ‘jengkel’ oleh kelakuan putra putri kita. Tapi sadarkah kita, itu semata karena ketidaktahuan mereka. Apa yang mereka (anak-anak) pikirkan berbeda dengan orang dewasa bayangkan. Kadang kita bersikeras memperlakukan mereka sebagaimana yang kita ingin dan pikirkan. Kadang kita lebih peduli pada sebuah barang, daripada menghargai perasaan dan keinginan mereka.
Cinta, serupa saya di waktu kecil yang ‘ditakuti’ untuk tak bermain-main dengan gitar hanya karena khawatir merusaknya, saya kehilangan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Sementara Cinta kehilangan tangannya. Dan kehilangan tangan Cinta sejatinya adalah simbol dari kehilangan keberanian seorang anak. Saya dan Cinta sama-sama ‘diamputasi’.
Akhirnya, mari kita sayangi anak kita. Beri kehadiran yang berkualias untuk bersama mereka, dengarkan apa yang menjadi ingin mereka, dan jangan lupa tetap ‘sadar juga sabar’ menghadapi tingkah lucu, ‘nakal’, dan ‘menjengkelkan’ dari perbuatan mereka. Ingat! suatu hari nanti kita akan merindukan itu. Wallahua’lam Bissawab

Salam Powerful…!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07



Jumat, Oktober 31, 2014

BUNGKUS VS ISI

Tersiarnya kabar seorang pembantu presiden yang ‘nyentrik’, mulai dari cara berbusana, merokok di Istana, memiliki tato, sampai tingkat pendidikannya yang hanya lulusan SMP namun ‘sukses’, menjadi buah bibir menarik di publik socmed. Pemandangan ‘tak lazim’ ini menuai pro dan kontra. Bagi yang simpati pada bu Menteri segala pujian tertuju padanya, data mengenai prestasinya dishare dan dikomentari penuh semangat, kadang sedikit emosional. Tidak demikian bagi yang ‘terusik’ dengan kehadiran gaya ‘nyentrik’ bu Menteri. Seperti yang pro, mereka juga menshare informasi ‘buruk’ sang pembantu Presiden itu.
Ada-ada saja kreativitas publik socmed mengespresikan pendapatnya, ada yang menyandingkan foto bu Menteri dengan salah seorang mantan kepala daerah yang kini ‘nyantren’ karena kasus korupsi. Pada foto bu Menteri ditulis; perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA. Dan pada bagian gambar mantan kepala daerah yang terjerat kasus korupsi itu ditulis; tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi. Bagi yang pro Menteri ‘nyentrik’ mungkin ingin berkata bahwa ‘tuh lihat, yang tampilannya baik toh ternyata korupsi juga’.
Sekarang mari lihat kreativitas yang terusik oleh ulah ‘nyentrik’ bu Menteri. Mereka menyajikannya dalam bentuk dialog seorang guru dan muridnya. Guru: Budi, kenapa bajunya tidak dimasukkan? Budi: Pak Presiden aja bajunya gak dimasukkan. Guru: Kenapa kamu bertato? Budi: Ibu Menteri kita saja bertato kok. Guru: Lalu kenapa merokok di lingkungan sekolah? Budi: Lah, para Menteri aja bebas merokok di Istana. Guru: Kalo begitu, sekarang masuk kelas, ayo belajar biar pinter. Budi: Nggaklah bu, orang yang gak lulus SMA aja bisa jadi Menteri.
Respon yang berbeda pada perilakau ‘nyentrik’ bu Menteri muncul dari sudut pandang yang berbeda saat melihat sesuatu. Manusia memang secara alamiah memiliki kemampuan menyeleksi. Maka wajar terjadi beda pendapat tentang sebuah peristiwa, karena saat menyeleksi, biasanya sesorang akan berdiri pada titik yang berbeda, kadang ia hanya melihat dari sudut pandang dirinya. Latar belakang pendidikan, nilai, adat, agama, dan sebagainya memberi pengaruh pada cara pandang seseorang.
Semua itu sah, sulit memang menghakimi persepsi orang lain. Alih-alih mendapat solusi dari perdebatan itu, justru memperkeruh persoalan dan menjauhkannya dari pokok masalah yang ingin dijernihkan. Jika dicermati, perdebatan yang terjadi adalah soal ‘bungkus’ dan ‘isi’. Satu pihak berkeyakinan bahwa apalah aritnya bungkus, toh yang bagus luarnya belum tentu dalamnya, isi lebih penting. Pihak lainnya beranggapan berbeda, bagaimana mungkin dalamnya baik, jika bungkusnya saja demikian, tak pantas pemangku jabatan publik yang seharusnya menjadi panutan menampilkan luaran yang kurang nyaman untuk dilihat.
Fay Irvanto (@FayIrvanto), seorang Charisma Coach, mengatakan bahwa untuk berkharisma seseorang harus memperhatikan dua hal, konten dan konteks. Konten terkait dengan isi, seorang yang ingin berkharisma harus menguasai bidang yang ia geluti. Sebagai contoh, orang yang bicara soal kelautan dan perikanan, misalnya akan lebih didengar (berkharisma) ketika ia ‘berilmu’ tentang itu (ini bukan soal tingkat pendidikan formal).
Sementara konteks berkaitan dengan bungkus, tampilan seperti apa yang ingin dimunculkan ke publik. Dan cara berbusana yang tepat dan benar adalah salah satu contoh dari pentingnya konteks untuk menunjang kharisma. Baik konten ataupun kontkes, keduanya akan menjadikan seseorang didengar dan diikuti perkataanya. Bukankah sebagai Pejabat Publik harus menapilkan diri yang terbaik, dari isi juga bungkusnya untuk menghasilkan komunikasi yang efektif pada publik. Elite tak bisa bekerja sendiri, ia butuh rakyat sebagai pendukung kebijakan yang akan diambil dan dilaksanakan. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07