Jumat, Januari 17, 2014

TEMUKAN PASSION-MU

LDO mahasiswa ITI, 2013
Pernahkah sahabat merasa begitu sebel terhadap hari senin hingga jumat. Lima hari itu begitu menyiksa, hari-hari itu membuat sahabat terus menggerutu, 'ugh bete kerja mulu, capek, males'. Rasanya pengen cepet-cepet sabtu-minggu. Saya pernah merasakan hal tersebut, bagaimana dengan sahabat? Semoga tidak ya.

Kenapa kira-kira rasa itu sering hinggap pada diri kita? Sebab boleh jadi pekerjaan yang sekarang atau yang dulu pernah kita jalani hanya sebagai rutinitas biar dibilang sibuk, keren, beken atau sekedar menghindari gelar ‘pengacara’ alias pengangguran banyak acara, hehe.

Atau bekerja dengan alasan asal dapur bisa ngebul tak peduli pekerjaan-pekerjaan itu sesuatu yang kita cinta atau tidak. Nah, jika itu yang sahabat alami, boleh jadi sahabat belum menemukan passion atau belum bekerja pada passion kita yang sesungguhnya.

Apa sih passion itu? Saya juga baru belakangan ini peduli terhadap passion saya. Saya baru sadar betapa pentingnya passion dalam hidup seseorang. Bermula ketika saya menemukan sebuah buku yang te o pe be ge te deh, sebuah buku yang sungguh inspiratif. Buku itu 'mengobok-obok' perasaan saya. (Maaf agak lebay sedikit, hehe).

Ada rasa Sesal, bahagia, marah, haru, benci, kecewa, macem-macem deh, campur aduk, tumpang tindih. Dan yang pasti, ada getaran yang lahirkan semangat baru dalam diri saya untuk menata kembali hidup ini. Semoga tidak terlambat. Mudah-mudahan semangat ini tidak sesaat. Tolong di-amin-kan dong sahabat. Amin. Oke, makasih ya, hehe.

Passion itu sesuatu yang jika sahabat lakukan akan merasa happy, enjoy banget. Bahkan apapun akan sahabat berikan untuk itu, waktu sahabat, bahkan harta sahabat akan direlakan. Atau ketika sahabat melakukan itu tetap asik, lupa lelah, sekalipun tidak dibayar. Rasa puas bahagia adalah bayaran yang tak tergantikan.

Ingat pertama kali punya sepeda baru? Bagaimana rasanya? Saya dulu tidak sabar menunggu pagi. Meski saya belum ahli atau belum bisa mengendarainya, saya bertekad untuk sungguh-sungguh belajar, meski kadang jatuh, luka, sakit, tak begitu saya pedulikan rasanya. Saya sungguh senang dengan sepeda baru saya, saya sungguh menikmati sesuatu yang saya sukai, saya cintai.

Mungkin kira-kira begitu rasanya ketika kita bekerja pada passion kita. Tak sebar menunggu esok untuk kembali bekerja, kembali menambah dan mengasah kemampuan agar menjadi yang terbaik, melahirkan karya-karya terbaik, dan seterusnya.

Hidup ini sungguh singkat. Sayang jika hanya dihabiskan menggugurkan kewajiban dan melakoni rutinitas tanpa cinta didalamnya. Kita habiskan hidup untuk sesuatu yang kita menggerutu karenanya. Sudah gaji kecil, pahala bekerja yang seharusnya jadi ibadah itu juga tak kita dapatkan. Sial kemana-mana kita, hehe.

Kita akan tua dan mati, lalu dilupakan setelah itu jika tak ada karya yang pantas untuk ditinggalkan. Tidak ada alasan orang lain untuk mengenang kita. Sebab memang kita melakukan sesuatu setengah hati, sehingga kita jauh dari sebutan expert (ahli). Dan hanya mereka yang ahli lah yang bisa mempersembahkan sesuatu yang powerful lewat karya bhakti yang dilahirkannya. Dan itulah yang akan diingat oleh orang lain ketika Allah sudah memanggil kita.

Wow, luar biasa ya dampak dari passion itu. Dan masing-masing kita punya passion, yuk kita temukan passion kita, biar hidup makin keren, beken, aduhay, dan tentunya tambah bergairah. Betapa senangnya kita, bekerja sesuai dengan apa yang kita cintai (passion) kemudian dibayar pula.  hehe. Allahu Akbar…!


Salam Powerful

Cijantung, 17 Januari 2014
jujulmaman

Kamis, Januari 16, 2014

JANGAN SEKEDAR MENYESAL

suasana kantor lama DFQ Cijantung
Hidup selalu bergerak maju, kehidupan selalu berubah tak peduli kita bergerak atau diam. Ketika diam yang jadi pilihan, maka kita akan tertinggal, kita akan disebut 'jadul', kuno alias ketinggalan jaman. Hehehe. Begitulah hukum waktu yang digambarkan laksana pedang, kalau bukan kita yang memotong, maka kitalah yang terpotong-potong. Habis kita, wow sadis nian ya.

Penyesalan itu di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran, begitu lelucon yang biasa kita ungkapkan untuk melukiskan tentang waktu yang terbuang percuma. Penyesalan akan masa lalu yang disia-siakan kadang diikuti dengan andai-andai, seandainya aku terlahir kembali, seandainya waktu bisa kuputar kemabli, seandainya aku kembali muda, seandainya, seandainya, seandainya.

Bolehlah kita menyesalkan masa lalu yang mubazir terlewat percuma. Namun, sekeras apapun, sedalam apapun penyesalan kita masa lalu akan tetap masa lalu. Bukan masala guwe, hehe becanda jangan serius-serius ah. Kita siapkan hari ini dengan potensi maksimal, kita lakukan yang terbaik (doing the best) agar kelak hari ini tidak menjadi masa lalu yang kita ratapi lagi esok hari.

Hidup berubah, bergerak. Lengah kita dengan hukum itu, tertinggal kita. Bahkan ketika kita yang enggan berubah, bergerak, maka sesungguhnya lonceng kematian sudah berdentang. Kita hanya jasad yang tak berguna apa-apa, kita sesungguhnya sudah mati sebelum jasad ini berkalang tanah. Kita 'sampah' yang sekedar menebar bau, merusak pemandangan zaman yang berubah. Yuk berubah, perbanyak amal positif mengasah keahlian, semoga kita menjadi sebaik-baik manusia, yang mendatangkan manfaat sebesar-besarnya buat sesama. Amin, kabulkanlah ya Allah.


Salam Powerful

Cijantung, 15 Januari 2014
jujulmaman

Senin, Januari 13, 2014

THE POWER OF CONTOH

ghina embun kayyisa
Pernah mendengar nasehat, '1 contoh lebih mujarab dari 1000 perkataan'? Saya sendiri sudah lama mendengar nasehat ini, namun tidak selalu mengamalkannya, kata lebih banyak saya gunakan.

Sampai pada suatu subuh yang tenang, yang kebetulan putri saya yang masih berusia 2 tahun belakangan ini sering rewel, maklum dia baru saja disapih, saya bangun lebih awal dan menemani gadis kecil itu bermain mengalihkan rewelnya sampai azan subuh berkumandang.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, sayup suara panggilan menegakkan sholat dan ajakan meraih kemenagan itu terdengar. 'Nak daddy wudhu dulu ya, mau shalat subuh, gadis mau ikut?' ajak saya padanya. 'Iyah' jawabnya sambil anggukkan kepala. Senang sekali dia diberi sempat main air, sampai kuyup pakainnya. Setelah wudhu, saya pun mengganti bajunya yg basah terlebih dahulu dan kemudian melaksanakan sholat subuh.

'Misi daddy gadis di sini', katanya sambil berdiri di tengah sajadah yang saya bentangkan. 'Ya udah daddy di pinggir ya, ikutin daddy ya', kemudian yang mulai shalat.

Gadis kecil saya itu memang tidak secara beraturan mengikuti gerakan demi gerkan shalat saya. Tapi dia angkat tangan gerkan takbiratul ihram, rukuk, sujud, kemudian berdiri lagi, itu dilakukannya seenaknya saja, maklum usianya baru 2 tahun, hehe.

Setelah shalat, biasanya dia duduk bersila dan menengadahkan tangan berdoa dan entah apa yang ia baca. Menariknya, ocehannya yang menurutnya doa itu selalu ditutupnya dengan kata 'amin' sambil mengusapkan kedua tangannya ke muka. Saya selalu haru jika lihat itu. Tentu saja begitu, sebab rasa-rasanya orang tua mana yang tak bahagia melihat perkembangan anaknya. Dan eiittss, jika kamu belum menikah, nanti kamu tau deh rasanya, ayo buruan jangan kelamaan, hehehe.

Tidak biasanya selepas shalat subuh itu saya ambil al-Quran dan mengaji. Saya mengulang hafalan surat-surat pendek. Maklum rasa malas masih lebih sering menjadi teman saya. Doakan ya, semoga membaca al-Quran menjadi kebiasaan baik yang menjadi teman baru saya, amin ya Rabbal 'alamien. Sementara saya mengaji mengulang hafalan, gadis kecil saya asik bermain sendiri, dia ambil setrikaan lalu dengan serius menggosok-gosok bajunya. Sesekali dia bertanya, 'sudah daddy?', 'belum, sebentar lagi ya'. Dan ia melanjutkan mainnya. Pertanyaan itu ia lontarkan sampai beberapa kali.

Setelah merasa cukup mengulang hafalan, saya menutup Quran dan meletakkannya di atas meja, lalu merapihkan sajadah yang sedari tadi saya gunakan. Gadis kecil saya yang semula bermain setrika-setrikaan, berderi dan meraih al-Quran yang saya letakkan di atas meja rias itu. 'Gadis dulu', katanya. Lalu ia membuka al-Quran itu kemudian berceloteh seolah sedang serius membacanya. Untuk kedua kalinya, pada subuh yang syahdu itu haru kembali memenuhi relung hati saya. Saya terdiam memperhatikan dan memberi kesempatan padanya untuk beraksi, hehe. Setelah beberapa lama, 'sudah daddy', katanya. 'Ya', jawab saya singkat. 'Rapihkan ya', pinta saya padanya.

Subuh ini, saya teringat dengan nasehat yang saya tulis di paragraf pertama catatan ini, '1 contoh lebih mujarab dari 1000 perkataan'. Dan tak hanya ingat, saya membuktikannya sendiri. Luar biasa bukan? Inilah the power of contoh.

Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, Maha Pengasih, Maha penyayang. Engkau yang sanggup membolak-balikkan hati hamba, bimbing hati ini agar tetap hidup dalam cahanyaMu, sehingga seluruh pikiran, sikap, dan perilaku hamba senantiasa terjaga, seluruhnya positif. Aku ingin menjadi contoh yang baik, juga inspirasi bagi anak-anakku, istriku, keluargaku, dan orang lain. Aku ingin hidupku bermanfaat. Ya Allah perkenankan doaku. Amin.


Salam Powerful

Cijantung, 12 Januari 2014
jujulmaman