Kamis, Februari 12, 2015

JALAN DAKWAH

Akhir-akhir ini media ramai memperbincangkan kehadiran ISIS (Islamic State of Irak and Syiria) sebagai sebuah gerakan yang mengancam. Tak pelak ISIS seolah menjadi momok angker menakutkan yang patutut 'dimutilasi' kehadirannya di Indonesia. Baik lembaga formal pemerintah atau ormas keagamaan sepakat bahwa ISIS mengancam keutuhan NKRI. Oleh karenanya patut disiapkan langkah-langkah 'penghancurannya'.
Ini bukan kali pertama kita bersatu bersepakat untuk memerangi segala aksi yang mengancam Ibu Pertiwi, Indonesia. Pada kasus terorisme, misalnya kita sibuk mengecam sembari mengkritik ini dan itu. Mulai dari sebab absennya negara menciptakan keadilan, faktor kemiskinan, pemahaman agama yang dangkal, hingga pendidikan rendah serta belum maksimalnya pembentukan karakter anak bangsa, adalah deretan respon, koreksi juga kritik kita pada jamaknya paham radikalisme di Indonesia.
Respon sama yang selalu berulang tiap kali peristiwa serupa 'tiba-tiba' mencuat mungkin menunjukkan bahwa kita belum (sepenuhnya) melakukan apa-apa sebagai upaya pembekalan diri anak bangsa agar mampu berpikir positif dan rasional dalam merespon sebuah 'isme' yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita.
Kita sibuk bereaksi, menganalisa, dan (mudah saja) memberi solusi ini dan itu hanya pada saat muncul sebuah 'aksi'. Bukankah pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Dan bukankah sikap kita 'yang hanya ramai mengutuk' ketika ada sebuah 'aksi' adalah semacam bentuk 'kegagalan' kita dalam pencegahan.
Jika saja pencegahan 'konsisten' dilakukan sebagai upaya antisipatif melawan 'isme' radikal, mungkin kita tak perlu begitu khawatir generasi muda 'terhipnotis' dengan paham-paham baru 'yang menghancurkan' keragaman dan keutuhan harmoni NKRI. Kita tak perlu 'seheboh' ini menyikapi kehadiran ISIS di Indonesia. Sebab, karakter yang konsisten dibangun akan sendirinya menjadi benteng penolak gerkan itu.
Nurcholish Madjid, cukup jeli ketika membaca strategi dalam sebuah perjuangan yang kerap kita pakai, baginya ada dua gaya perjuangan, fight againts (berjuang melawan) dan fight for (berjuang untuk). Strategi pertama lebih cenderung berkonotasi 'hard action' (ada yang menyebutnya reaktif) sementara yang kedua sering bermakna 'soft action' juga disebut proaktif. Bagi saya, yang pertama adalah 'pengobatan', sementara yang lainnya adalah 'pencegahan'.
Mengutuk, mengecam, menangkap, dan 'membasmi' mereka yang terlibat dalam 'isme' radikal merupakan contoh konkret dari tindak 'pengobatan'. Mungkin cara ini ampuh menghilangkan wujud fisiknya, tapi belum tentu semangatnya. Alih-alih menyelesaikan masalah, fokus pada ‘pengobatan’ mungkin akan menyiapkan bom waktu yang kapan saja bisa meledak. Cara ini hanya berorientasi penyelesaian jangka pendek.
Sementara upaya 'pencegahan' mengikhtiarkan problem solving jangka panjan. Cara ini mewujud dalam bentuk menyiapkan peradaban mulia dengan mula-mula meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara terstruktur, sistematis, konsisten, dan berkelanjutan.
Upaya pencegahan memang merupakan sesuatu yang 'sulit' dan membutuhkan waktu tak berbatas. Ia adalah pekerjaan seumur kehidupan manusia. Sepanjang masih ada kehidupan maka selamanya strategi nahi munkar tetap harus dilakukan. Pilihan pada strategi pencegahan bukan dimaksudkan menapikkan 'manfaat' atau kebutuhan pada strategi fight againts. Cara itu tetap relevan, namun tentu sangat bergantung pada konteks dan kebutuhannya.
Seperti almarhum cak Nur, saya percaya dan cenderung memilih jalan dakwah yang kedua (fight for) untuk menyelesaikan persoalan keummatan dan kebangsaan menuju peradaban mulia. Meski membutuhkan kesabaran juga konsistensi tingkat tinggi, cara ini mungkin meninggalkan 'bekas' yang lebih mendalam dalam diri dan hati setiap anak bangsa. Semoga.Wallhu'alam Bissawab.

Salam Powerful!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07

Jumat, November 07, 2014

GALAU YES, PUTUS ASA NO

Seorang sahabat baik saya pernah berkelakar, ‘masa motivator galau’, kurang lebih begitu katanya. Dan jleeeeeb. Itu membuat kadar sai galau semakin bertambah. Semula saya begitu serius menanggapi candaan itu. Saya merasa ‘berdosa’, memotivasi agar orang lain tak galau sementara sendirinya sering dihampiri rasa tak menentu itu. Namun, setelah dipikir-pikir, apa ada orang yang tak pernah galau selama hidupnya?
Galau memang tak pandang bulu. Virusnya bisa menjangkiti siapa saja, tua, muda, kerja, nganggur, atasan, bawahan, dan bahkan kapan saja tak peduli ruang juga waktu. Sesungguhnya mahluk seperti apa galau itu?
Secara umum, banyak yang mengaritkan galau semacam perasaan yang tak nyaman, gundah, gelisah, sedih, menyesal, bingung, dan sebagainya. Semua rasa itu biasanya merupakan akibat dari keadaan silit, kesusahan, permasalahan yang sedang dialami seseorang.
Mengingat hampir mustahil manusia tak berjumpa dengan masalah, lantas apakah bisa disimpulkan hampir mustahil pula bahwa tak mungkin manusia bebas dari kegalauan? Dalam perenungan itu saya menemukan Firman Allah dalam surat al-Ma´aarij [70: 19], yang menyebutkan bahwa, ‘Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir’.
Teringat dengan candaan sahabat baik yang saya ceritakan di atas, ‘teguran’ yang ia sampaikan memang ada benarnya. Harusnya sang pemberi nasehat tak boleh galau. Tapi, bagaimana jika saya terlanjur mengalaminya (galau), haruskah saya berhenti memotivasi? Haruskah saya menyalahkan diri sendiri dan merasa berdosa? Pasti tak semestinya begitu, ingat bahwa kita tercipta sebagai mahluk yang suka berkeluh kesah.
Lantas bukan ini menjadi pembenaran untuk terlarut dalam kegalauan yang tak berkesudahan. Galau boleh dan mungkin kita perlu nikmatinya sesekali waktu. Tapi bukankah kita harus berubah. Galau boleh, yang terlarang adalah berputus asa untuk move ON. Allah ingatkan kita dalam surat Yusuf [12: 87], ‘…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.’
Akhirnya, penting untuk selalu berdoa, terutama saat membaca surat al-Fatihah [1: 7], yang kita baca berulang-lang dalam shalat, agar terhindar dari ‘jalan yang sesat’. Saya lebih senang menyampaikan doa ‘anti galau’ itu dalam kalimat sebagai berikut: ‘Ya Allah, tunujukkanlah aku jalan yang lurus. (Yaitu) jalan mereka yang telah Engkau karuniakan nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Bukan pula jalan mereka-mereka yang sesat, galau, dan disorientasi. Ya Allah, perkenankanlah doa ku.' Wallahu ‘Alam Bissawab.
Salam Powerful!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07

Selasa, November 04, 2014

JANGAN AMBIL KEBERANIANKU

Sewaktu kecil, pernah saya dilarang dan ‘ditakut-takuti’ oleh paman saat coba main-mainkan sebuah gitar. ‘Eh, jangan’, paman saya coba melarang. ‘Nanti rusak. Itu gitar bagus, jangan asal mainin. Nanti kamu dimarahi lho’, lanjutnya coba menakuti. Itu ampuh, meski penasaran, saya urungkan niat untuk coba-coba mainkan gitar itu.
Larangan sang paman ‘membekas’ hingga saat ini. Saya ragu mencoba, takut bagaimana jika rusak, takut dimarahi, dan sebagainya. Celakanya, ketakutan itu tak hanya berlaku untuk gitar. Pernah saya merasa takut untuk mengoprasikan computer, saya takut salah pencet tombol. Akibatnya, waktu dulu kuliah, saya cukup lama menjadi mahasiswa gaptek alias gagap teknologi. Tahukah Anda, tanpa sadar sang paman telah mengambil ‘keberanian’ ponakannya.
Sebagai orang tua, kadang secara tak sengaja melakukan hal serupa pada anak. Melarang, menakuti, bahkan ‘menyakiti’ bila mereka ‘nakal’ atau melakukan kesalahan. Tak seharusnya orang tua mengambil ‘keberanian’ anak. Berlebihan menyikapi anak bukan hanya ‘mencelakai’ mereka, tapi melahirkan penyesalan yang mendalam. Kisah inspiratif berikut semoga memberi penyadaran bagaimana bersikap. Cerita ini saya dapat dari sebuah blog dan saya tulis ulang dalam versi sendiri. Berikut ceritanya.
Ada sepasang suami isteri yang sibuk bekerja. Mereka meninggalkan putri cantiknya yang berusia tiga setengah tahun bersama si bibi (orang yang biasa membantu di rumah mereka). Anak tunggal pasangan ini bernama Cinta. Dia gadis kecil yang lucu, cerdas, dan lincah. Meski ada si bibi, tapi pekerjaan yang cukup banyak membuat bibi sibuk di dapur dan sering meninggalkan Cinta bermain sendirian.
Suatu hari, pasangan suami istri itu berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan Ibu Kota. Mobil barunya ditinggalkan di garasi rumah. Sementara Cinta yang lucu, menghabiskan waktunya bermain bersama ayun-ayunan, boneka, dan kadang memetik bunga di halaman rumah. Saat asik bermain, Cinta melihat paku yang berkarat. Ia coba menggoreskan paku itu ke mobil baru ayahnya. Semangat sekali ia melukis, mula-mula di sisi kiri lalu ke kanan mobil. Cinta melukis ibu dan ayahnya, dirinya sendiri, melukis ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imaginasinya.
Sore harim saat pulang kerja, terkejutlah sang ayah melihat mobil barunya yang sudah penuh goresan itu. Sang ayah marah besar dan berteriak, ‘Kerjaan siapa ini?’ Mendengar itu, si bibi kaget dan segera berlari keluar. Bibi ketakutan, lebih-lebih melihat wajah tuannya yang sangat marah. ‘Saya tidak tau tuan’, si bibi bicara sambil terbata. ‘Bibi di rumah sepanjang hari, apa saja yg bibi lakukan?’ sang istri pun ikut-ikutan memarahi.
Cinta yang sedang berada di kamar, saat mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari ke luar. Dengan manja ia berkata ‘Cinta ayah yang membuat gambar itu, baguskan?’ akunya manja sambil memeluk sang ayah. Ayah yang terlanjur marah lalu mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, kemudian berkali-kali dipukulkannya ke tangan putri kecilnya itu. Cinta yang belum mengerti, menagis kesakitan juga ketakutan. Sementara ibunya hanya diam seakan mengamini perbuatan suaminya.
Cukup lama sang ayah memukul tangan kanan dan kiri anaknya. Sore itu, kedua tangan Cinta yang mungil memar, luka, dan berdarah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan putri kecil itu bengkak dan mulai bernanah. Si bibi mengadukan itu pada majikannya. ‘Oleskan obat saja! jawab sang ayah singkat.
Tiga hari berlalu, baik ayah atau ibunya tak peduli terhadap kondisi Cinta. Meski berkali-kali si bibi melaporkan kondisinya, suami istri tetap acuh. ‘Cinta demam, Bu’, kata si bibi. ‘Beri minum obat saja!’ jawab sang ibu. Semakin hari, kondisi Cinta ternyata makin memburuk. Panasnya bukan turun, tapi malah semakin menjadi. Kembali si bibi melaporkan itu kepada majikannya.
Gadis kecil yang selalu ceria itu kini tampak begitu lemah, wajahnya pucat, badannya panas, kadang mengggil. Ketika dibawa ke klinik, ternyata dokter menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. ‘Kondisi anak bapak sudah sangat serius, harus dirujuk ke rumah sakit’, ucar dokter. Setelah dirawat intensif di rumah sakit, dokter yang menangani Cinta akhirnya memanggil orang tuanya.
Kepada mereka, dokter mengatakan, ‘Tidak ada pilihan’, kedua tangan putri anda harus diamputasi karena sakitnya sudah terlalu parah. Ini sudah bernanah, dan demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah’, tegas dokter. Mendengar itu, kedua suami istri itu terdiam dan tak kuasa menahan tangis. Terasa dunia berhenti berputar. Mereka menyesal, tapi apa yang dapat dikatakan lagi.
Sang ibu meraung merangkul putri kecilnya. Berat hati sang ayah dengan tangan bergetar menandatangani surat persetujuan operasi. Setelah selesai, saat obat bius yang disuntikkan habis, Cinta menangis kesakitan. Dia heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Sambil menahan sakit dan berlinang air mata, gadis kecil itupun berucap, ‘Ayah, Ibu, Cinta tidak akan melakukannya lagi, Cinta janji. Cinta akan menuruti kata-kata ayah, Cinta tak mau lagi ayah pukul, Cinta takut, Cinta takut. Cinta sayang ayah, Cinta sayang ibu.’ Gadis kecil itu tak berhenti menangis.
Tak lama kemudian ia kembali berkata, ‘Ayah, kembalikan tangan Cinta. Untuk apa diambil? Cinta janji tidak akan mengulanginya lagi. Bagaimana caranya Cinta mau makan nanti? Bagaimana Cinta mau bermain nanti? Cinta janji tidak akan mencoret-coret mobil ayah lagi’, maafkan Cinta ayah, katanya berulang-ulang dan masih tetap menangis.
Kadang sering kita dibuat ‘jengkel’ oleh kelakuan putra putri kita. Tapi sadarkah kita, itu semata karena ketidaktahuan mereka. Apa yang mereka (anak-anak) pikirkan berbeda dengan orang dewasa bayangkan. Kadang kita bersikeras memperlakukan mereka sebagaimana yang kita ingin dan pikirkan. Kadang kita lebih peduli pada sebuah barang, daripada menghargai perasaan dan keinginan mereka.
Cinta, serupa saya di waktu kecil yang ‘ditakuti’ untuk tak bermain-main dengan gitar hanya karena khawatir merusaknya, saya kehilangan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Sementara Cinta kehilangan tangannya. Dan kehilangan tangan Cinta sejatinya adalah simbol dari kehilangan keberanian seorang anak. Saya dan Cinta sama-sama ‘diamputasi’.
Akhirnya, mari kita sayangi anak kita. Beri kehadiran yang berkualias untuk bersama mereka, dengarkan apa yang menjadi ingin mereka, dan jangan lupa tetap ‘sadar juga sabar’ menghadapi tingkah lucu, ‘nakal’, dan ‘menjengkelkan’ dari perbuatan mereka. Ingat! suatu hari nanti kita akan merindukan itu. Wallahua’lam Bissawab

Salam Powerful…!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07



Jumat, Oktober 31, 2014

BUNGKUS VS ISI

Tersiarnya kabar seorang pembantu presiden yang ‘nyentrik’, mulai dari cara berbusana, merokok di Istana, memiliki tato, sampai tingkat pendidikannya yang hanya lulusan SMP namun ‘sukses’, menjadi buah bibir menarik di publik socmed. Pemandangan ‘tak lazim’ ini menuai pro dan kontra. Bagi yang simpati pada bu Menteri segala pujian tertuju padanya, data mengenai prestasinya dishare dan dikomentari penuh semangat, kadang sedikit emosional. Tidak demikian bagi yang ‘terusik’ dengan kehadiran gaya ‘nyentrik’ bu Menteri. Seperti yang pro, mereka juga menshare informasi ‘buruk’ sang pembantu Presiden itu.
Ada-ada saja kreativitas publik socmed mengespresikan pendapatnya, ada yang menyandingkan foto bu Menteri dengan salah seorang mantan kepala daerah yang kini ‘nyantren’ karena kasus korupsi. Pada foto bu Menteri ditulis; perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA. Dan pada bagian gambar mantan kepala daerah yang terjerat kasus korupsi itu ditulis; tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi. Bagi yang pro Menteri ‘nyentrik’ mungkin ingin berkata bahwa ‘tuh lihat, yang tampilannya baik toh ternyata korupsi juga’.
Sekarang mari lihat kreativitas yang terusik oleh ulah ‘nyentrik’ bu Menteri. Mereka menyajikannya dalam bentuk dialog seorang guru dan muridnya. Guru: Budi, kenapa bajunya tidak dimasukkan? Budi: Pak Presiden aja bajunya gak dimasukkan. Guru: Kenapa kamu bertato? Budi: Ibu Menteri kita saja bertato kok. Guru: Lalu kenapa merokok di lingkungan sekolah? Budi: Lah, para Menteri aja bebas merokok di Istana. Guru: Kalo begitu, sekarang masuk kelas, ayo belajar biar pinter. Budi: Nggaklah bu, orang yang gak lulus SMA aja bisa jadi Menteri.
Respon yang berbeda pada perilakau ‘nyentrik’ bu Menteri muncul dari sudut pandang yang berbeda saat melihat sesuatu. Manusia memang secara alamiah memiliki kemampuan menyeleksi. Maka wajar terjadi beda pendapat tentang sebuah peristiwa, karena saat menyeleksi, biasanya sesorang akan berdiri pada titik yang berbeda, kadang ia hanya melihat dari sudut pandang dirinya. Latar belakang pendidikan, nilai, adat, agama, dan sebagainya memberi pengaruh pada cara pandang seseorang.
Semua itu sah, sulit memang menghakimi persepsi orang lain. Alih-alih mendapat solusi dari perdebatan itu, justru memperkeruh persoalan dan menjauhkannya dari pokok masalah yang ingin dijernihkan. Jika dicermati, perdebatan yang terjadi adalah soal ‘bungkus’ dan ‘isi’. Satu pihak berkeyakinan bahwa apalah aritnya bungkus, toh yang bagus luarnya belum tentu dalamnya, isi lebih penting. Pihak lainnya beranggapan berbeda, bagaimana mungkin dalamnya baik, jika bungkusnya saja demikian, tak pantas pemangku jabatan publik yang seharusnya menjadi panutan menampilkan luaran yang kurang nyaman untuk dilihat.
Fay Irvanto (@FayIrvanto), seorang Charisma Coach, mengatakan bahwa untuk berkharisma seseorang harus memperhatikan dua hal, konten dan konteks. Konten terkait dengan isi, seorang yang ingin berkharisma harus menguasai bidang yang ia geluti. Sebagai contoh, orang yang bicara soal kelautan dan perikanan, misalnya akan lebih didengar (berkharisma) ketika ia ‘berilmu’ tentang itu (ini bukan soal tingkat pendidikan formal).
Sementara konteks berkaitan dengan bungkus, tampilan seperti apa yang ingin dimunculkan ke publik. Dan cara berbusana yang tepat dan benar adalah salah satu contoh dari pentingnya konteks untuk menunjang kharisma. Baik konten ataupun kontkes, keduanya akan menjadikan seseorang didengar dan diikuti perkataanya. Bukankah sebagai Pejabat Publik harus menapilkan diri yang terbaik, dari isi juga bungkusnya untuk menghasilkan komunikasi yang efektif pada publik. Elite tak bisa bekerja sendiri, ia butuh rakyat sebagai pendukung kebijakan yang akan diambil dan dilaksanakan. Wallahu ‘Alam Bissawab.

Salam Powerful…!
Julmansyah Putra

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07


Kamis, September 04, 2014

TUHAN (SAJA) PERCAYA

Malaikat pernah begitu ragu ketika Tuhan mengutaran niat-Nya untuk menciptakan manusia. Para Malaikat berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah’.

Tuhan begitu optimis pada rencana-Nya. Kemudian, dengan tegas menjawab keraguan malaikat-Nya: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.' 

Tuhan saja begitu yakin, Dia percaya pada kita yang diciptakan-Nya. Lalu mengapa justru kadang kita yang tak percaya diri sendiri? 

Sahabat-sahabat, mari jaga bahagia, jaga kepercayaan Tuhan, ikhtiar terus, dan buktikan kita sanggup!


Salam Powerful!
Julmansyah Putra


Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org 

Senin, September 01, 2014

TIGA BAGIAN JIWA

Plato, seorang filsuf ternama Yunani Kuno, dalam karyanya The Republic, membahas sebuah teori tentang kepribadian manusia. Plato menyebutnya dengan teori tentang jiwa.

Menurut Plato, jiwa manusia dalam dirinya terbagi menjadi tiga. Pertama, Akal Budi. Kedua, Semangat, dan ketiga adalah nafsu rendah. Ketiga bagian tersebut saling berlomba untuk menjadi yang utama. Ketiganya saling mendominasi, sebab pemenangnya adalah yang akan mengatur keseluruhan diri manusia itu.

konsekuensi bila bagian Akal Budi yang mendominasi maka, seorang manusia akan tampil sebagai pribadi yang rasional. Sementara jika peran Semangat yang lebih menonjol, maka menurut Plato, akan lahir sosok manusia yang pemberani. Dan jika nafsu-nafsu rendah yang menjadi penguasa diri manusia, mengalahkan dua bagian lainnya, maka yang ada adalah manusia yang menjadi budak dari nafsu rendahnya. Dan nafsu berkuasa adalah salah satu contohnya.

Sekarang bagaimana dengan kita, mana dari ketiga bagian yang disebut Plato yang mendominasi diri kita? Mari merenung.

Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org 

Senin, Agustus 25, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (7)

Shiraathal Ladziina An'amta 'Alaihim. Karuniakanlah aku kemampuan, meneladani perjuangan mereka yang pernah Engkau karuniakan nikmat. Para Nabi-nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. yang telah menaklukkan kafir Makkah, membangun masyarakat Manidanh, meletakkan dasar-dasar peradaban manusia. Mengatur strategi perang Badar, Uhud, Khandaq, Hunain, dll. Membangun sumber daya manusia, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, dll. Para Mujahid penegak kebenaran-Mu.

Ghairil Maghduubi 'Alaihim. Bukan seperti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang Engkau murkai. Sebagaimana Fir'aun, Qorun, Bal'am dan sebangsanya. Penganjur nafsu materialisme, Yahudiisme, sistem ekonomi ribawi, kapitalisme, dan imperialisme global. Penghisapan sekelompok kecil kapitalis, pada sebagian besar umat manusia, berwujud pada ketimpangan sosial dan global, permusuhan dan ketakutan.

Waladh Dhaaliin. Dan bukan jalan seperti yang ditempuh oleh orang-orang yang sesat. Sebagaimana Abu Jahl, Abu Lahb, dan sebangsanya. Para kafir pembangkang ajaran tauhid-Mu yang meracuni pemikiran manusia dengan sekularisme, atheisme, modernisasi. Penikmatan hawa nafsu sensual, hedonisme, pergaulan free sex. Berwujud pada peruntuhan moral, yang merendahkan nilai-nilai kewanitaan dan kemanusiaan.

(Be Powerful Like Rasulullah)


Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org


Kamis, Agustus 21, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (6)

'Ihdinash-shiraathal Mustaqiim'. Karunikanlah aku hidayah-petunjuk-Mu; ide, ilham, kesempatan setiap saat, kesempatan tidak terhingga, gerak hati manusia, kesehatan, kepiawaian, kecerdasan, ketangkasan, kesabaran, keihklasan, ketawakkalan. Segala sumberdaya yang aku perlukan untuk melaksanakan ikhtiar dan usaha aku ini, sehingga berhasil maksimal, menuju jalan-Mu yang lurus. (The Clear Vision) 



Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org


Rabu, Agustus 20, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (5)

'Iyyaaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'ien'. Hanya kepada Engkaulah ya Allah, aku persembahkan segala karya bhakti ini (bekerja), sebagai ibadahku kepada-Mu. Untuk itu, karuniakanlah aku kemampuan, mengartikulasikan, merancang strategi operasional, melaksanakan ikhtiar dan usahaku ini, sehingga berhasil maksimal, dalam sistem takdir-Mu dan sistem iradah-Mu. Karena Engkaulah ya Allah, satu-satunya tempat aku memohon pertolongan. (The Miracle of Doing the Best)


Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Selasa, Agustus 19, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (4)

'Maaliki Yawmiddien'. Engkaulah ya Allah yang akhirnya paling menentukan. Karuniakanlah aku kemampuan, membuat keputusan, pada setiap saat, setiap kesempatan, terutama pada saat-saat kritis yang paling menentukan. (The Soul of Leadership)




Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Senin, Agustus 18, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (3)

"Arrahmanir-Rahiem". Karuniakanlah aku kemampuan, menyerap sedikit saja sifat-Mu yang Maha Rahman; kemampuan membawa rahmat pada sekalian alam. Dan sifat-Mu yang Maha Rahim; kemampuan mengkonsolidasikan, mengorganisir, dan membangun jaringan ukhuwah seluruh potensi kaum muslimin. (The Message of Communication)





Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Jumat, Agustus 15, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (2)

'Alhamdulillahirabbil 'Alamien'. Aku memuji dan bersyukur kepada-Mu ya Allah. Karuniakanlah hamba-Mu kemampuan, mewujukan kehidupan masyarakat yang terpuji, peradaban muslimin yang berkembang dan benderang, penuh dengan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Untuk itu, karuniakanlah hamba-Mu kemampuan, untuk menggali memobilisasi dan memanfatkan segala potensi, peluang, dan sumber daya yang telah Engkau pendam di seluruh alam ini. (The Secret of Syukur)



Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Kamis, Agustus 14, 2014

ZIKIR AL-FATIHAH (1)

"Bismillahirrahmanirrahiem". Atas nama-Mu ya Allah, aku melaksanakan tugas mulia ini (bekerja). Terimalah ia sebagai ibadahku kepada-Mu. Untuk itu, karuniakanlah aku kemampuan, menyerap sedikit saja sifat-Mu yang Maha Rahman; kemampuan membawa rahmat pada sekalian alam. Dan sifat-Mu yang Maha Rahim; kemampuan mengkonsolidasikan, mengorganisir, dan membangun jaringan ukhuwah seluruh potensi kaum muslimin. (The Power of Niat)


Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Rabu, Agustus 13, 2014

SALAM SEMUT

Sering saya mendengar nasehat, ‘belajarlah dari semut, mereka saling bertegur sapa mesra setiap kali berjumpa’. Sesama semut, berhenti sejenak, saling mendekatkan kepala, seolah sedang cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri) jika bertemu sahabatnya. Itu adalah ‘ritual’ unik yang sering terjadi saat mahluk kecil ini sedang berpapasan. Indah bukan, jika pada

Selasa, Agustus 12, 2014

MENANG KALAH, BIASA!

Kemenangan berbuah kekalahan, jika tak ‘sanggup’ memaknainya. Pun, kekalahan adalah kemenangan, bila darinya hikmah banyak dipetik. Suhu panas politik Indonesia belakangan ini, terutama detik-detik mengumuman pasangan mana yang melenggang ke Istana, melahirkan kekhawatiran akan ketaksiapan kontestan pemilu untuk menerima kenyataan, kalah atau menang. Akibatnya, Indonesia-lah yang menjadi tumbalnya.

Adalah biasa menang kalah dalam sebuah kompetisi. Menang tak melulu ‘istimewa’. Kalah-pun tak lantas berarti ‘hina’. Sayangnya, dalam anggapan sebagian besar kita, kadang saya di antaranya, bahwa menang adalah harga mati dari sebuah usaha. Sementara kalah harus dihidari, bahkan dibuang jauh dari jalan ikhtiar kita. Kalah, melulu bermakna negatif, jelek, juga hina.

Peritiwa semacam ini tak saja terjadi di panggung politik, yang jelas-jelas ‘berebut’ kuasa. Takut kalah dan ingin selalu menang juga menampilkan wujudnya dalam dunia pendidikan, pergaulan, bahkan urusan agama sekalipun.

Teman saya pernah bercerita bahwa dia ‘dimusuhi’ oleh seorang guru agama. Pasalnya, ia yang notabene masih muda, jauh dibanding usia sang guru dan dia pun terhitung baru tinggal di daerah tersebut, belakangan lebih sering tampil di masyarakat. Kehadiran sahabat saya itu, seolah dianggap menggeser poisi yang biasa diperankan oleh sang guru.

Sikap sang guru yang ‘memusuhi’ orang lain yang tampil sepertinya, seolah menunjukkan ketidaksiapannya untuk kalah. Ia merasa tersaingi dengan hadirnya guru lain. Padahal, tentu tak patut mengguankan rumusan menang kalah dalam melakukan dakwah. Contoh lain adalah kisah ketakukan siswa terhadap kegagalan (kalah) dalam mengikuti UN. Akibatnya, mencontek, bahkan bersedia membeli kunci jawaban menjadi pilihan dari ketidaksiapan pada kekalahan.

Dalam lingkup pergaulan pun tak jauh berbeda. Biasanya, hal negatif yang dilakukan anak muda bermula dari gengsi dan kekhawatiran tidak diakui oleh kelompoknya. Tak dapat pengakuan ini dianggap sebuah kehinaan (kekalahan). Kata-kata ‘ah, ga gaul lu’ adalah momok menakutkan bagi sebagian anak muda sekarang ini. Dapat diterka, bahwa mereka akan melakukan apapun agar diakui, sekalipun itu negatif. Maraknya kasus narkoba, tauran pelajar, dan sebagainya mungkin dapat dijadikan contoh nyatanya.

Apa sesungguhnya arti sebuah kemenangan, apa pula makna dari kekalahan. Seorang guru yang diceritakan oleh sahabat saya tadi merasa kalah darinya. Apakah ia benar-benar kalah? atau itu hanya kegagalan untuk menangkap hikmah dari keberadaan orang lain yang serupa dengannya? Bukankah sang guru sesungguhnya menang, sebab ada generasi muda yang meringankan tugasnya, membantunya untuk berjuang mencerdaskan masyarakat. Pun, kasus murid yang mencontek demi lusus UN dan anak muda yang rela melakukan negatif hanya karena ingin diakui, merupakan kegagapan memaknai kemengangan dan kekalahan, keberhasilan juga kegagalan.

Dalam konteks suhu politik yang semakin memanas. Belajar dari kehidupan, ‘membaca’ semua peristiwa yang terjadi merupakan ikhtiar untuk menjadi bijaksana, memantabkan diri agar pantas disebut pemimpin. Maka penting bagi para petinggi negeri yang hari ini sedang berkompetisi, untuk belajar memaknai kemenangan juga kekalahan. Tanpa itu, kemenagan mungkin tak melahirkan maslahat bagi seluruh masyarakat dan kekalahan akan bermuara pada kehancuran. Tidak hanya bagi orang yang dianggap ‘musuh atau lawan’, tapi bagi dirinya sendiri, bahkan bagi kehidupan umat manusia. Wallahu’alam Bissawab.


#SiapMenangSiapKalah
Salam Powerful!

Julmansyah Putra



Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org

Senin, Agustus 11, 2014

‘NYAPRES’ ATAS NAMA ALLAH

Bagi seorang muslim, bertindak atas nama Allah adalah sebuah keharusan. Melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar ditunjukkan dari lafaz bismillahirahmanirahiem yang diucapkan. Setidaknya, 17 kali sehari semalam ayat pertama surat al-Fatihah itu dibaca, yaitu ketika mendirikan shalat. Pun, pada saat memulai pekerjaan, bagi yang terbiasa, Basmalah sudah ‘otomatis’ terucap oleh bibir tanpa harus dipikir-pikir lagi.

Basmalah memang sudah begitu dekat dengan keseharian kita. Tapi pernahkah terpikir bahwa ketika lafaz itu diucapkan, sejatinya kita sedang bertindak sebagai wakil-Nya. Menjalankan program ‘langit’ untuk ‘bumi’. Kita adalah satu-satunya ciptaan yang bersedia dan dipercaya untuk mengemban amanah yang maha dahsyat itu. Ya, kita adalah wakil Allah di muka bumi.

Bayangkan jika kita bertindak sebagai wakil Allah, kita bertindak atas nama-Nya, apa yang akan terjadi, kekuatan seperti apa yang akan lahir, semangat seperti apa yang akan muncul, dan sikap seperti apa yang akan menghiasi pribadi kita? Kadang baru atas nama sesama manusia saja kita sudah begitu semangat. Misalnya bila dikatakan, ‘saya hadir di tempat ini atas nama Bupati atau Gubernur’.

Apakah ketika orang yang mewakili pejabat itu bersikap ‘loyo’? Tidak, dia akan tampil maksimal, semuanya akan ia persiapkan dengan sebaik mungkin, cara bicaranya, cara bersalaman, cara berjalan, cara menyapa, dan sebagainya akan ia buat sepantas mungkin untuk menunjukkan bahwa ia adalah orang yang mewakili Bupati atau Gubernur.

Itu baru atas nama Gubernur, itu baru atas nama Bupati. Dan kita setiap hari atas nama Allah, Zat yang jauh lebih hebat dari jabatan manusia. Sudahkah kita bersikap dan memantaskan diri bahwa kita adalah manusia yang panas disebut wakil Allah? Mari sama-sama kita renungkan.

Guru saya, Prof. Muhammad Amin Aziz, pernah mengatakan bahwa saat membaca Bismillahirahmanirahiem, seharusnya dijadikan zikir dan ada doa yang dipanjatkan kepada Allah. Dalam istilah beliau adalah zikir hati. Saat bibir mengucap lafaz hati menyampaikan pesan (doa) sesuai makna dari lafaz itu. Bagi Prof. Amin, firman Allah yang menyebutkan bahwa, ‘Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu…’(QS. Al-A’raf [7]: 180), meminta kita untuk berdoa dengan isi pesan dari lafaz zikir tersebut.

Dan bukankah dalam lafaz Basmalah, terkandung asmaa-ul husna? Untuk itulah kita harus meminta saat membaca lafaz itu. Mohon pada Allah agar mencatat ikhtiar kita sebagai ibadah kepada-Nya dan berjanjilah akan meneladani sifat Pengasih dan Penyayang Allah dalam menjalankan ikhtiar tersebut. Sebab dengan cara itu (zikir hati), Basmalah (Atas Nama Allah) akan menunjukkan kedahsyatannya dan menjadi kekuatan kita sebagai wakil Allah, ujar pria yang menulis buku best seller The Power of Al-Fatihah ini.

‘Nyapres’ Atas Nama Allah

Bayangkan, jika pasangan capres yang bertanding di Pilpres 2014 ini meng-atasnama-kan Allah dalam usahanya menjadi orang nomor satu di Republik ini. Dapat dipastikan, mereka akan menjaga setiap perbuatan agar nilai ibadah dari ikhtiar tersebut tidak ternoda. Bukankah sebagaimana ketika puasa atau shalat misalnya, kita sebisa mungkin menghindari hal-hal yang mengurangi nilai pahala dari ibadah tersebut.

Demikian pula saat ‘nyapres’, seorang kandidat harus menjaga sikap agar kualitas ibadah dari niat itu tetap sempurna. Berlaku jujur, siap menang, siap kalah, menjaga harmoni, memberikan teladan yang baik bagi pendukung agar tidak terjadi konflik horizontal merupakan upaya konrket sebagai bukti agar ibadah yang sedang ia ikhtiarkan (nyapres) tidak berkurang atau bahkan hilang kualitas ibadahnya.

‘Nyapres’ atas nama Allah juga berarti melahirkan kesadaran untuk menginternalisasi siafat Allah (asmaa-ul husna) dalam dirinya. Capres hendaknya menempatkan fokus mereka pada upaya untuk mengejawantahkan rahmat Allah di muka bumi dan mengkonsolidasikan ke-bhineka-an yang dimiliki bangsa ini untuk menjadi bangsa yang kuat, bermartabat, adil, juga makmur.

Akhirnya, menang kalah untuk menjadi RI 1 bukanlah segalanya, ia semacam alat dan tujuannya adalah kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Presiden hanyalah jabatan formal untuk menyebut seseorang sebagai pemimpin. Tapi,bukankah tiap-tiap kita adalah pemimpin? Mari memimpin atas nama Allah. Wallahu’alam Bissawab.



#SiapMenangSiapKalah
Salam Powerful!

Julmansyah Putra


Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah07
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org 


Kamis, Juli 24, 2014

SELAMAT JALAN PROF

Menganal Prof. Dr. Ir. Muhammad Amin Aziz adalah titik balik bagi kehidupan saya. Beliau membantu untuk menemukan kembali diri saya. Banyak ilmu kehidupan yang saya pelajari dari beliau, baik itu yang diucapkannya langsung pada saya, atau ditunjukkannya dalam contoh sikap dan perilaku beliau. Untuk urusan kedua ini, beliau sering menggunakan istilah ‘dakwah bil hal’, menyeru kebaikan dengan contoh konkret melalui perbuatan.

Saya mengenal Prof. Amin, sekitar tahun 2010 awal. Diajak seorang teman untuk bergabung di lembaga binaan Prof. Amin, Dai Fiah Qolilah (DFQ), begitu lembaga itu dikenal. Mulanya, saya hanya berfikir soal bagaimana memiliki aktivitas setelah lulus kuliah, bekerja dan dapat uang dari apa yang saya kerjakan. Teman sempat mengatakan bahwa lembaga itu bergerak di bidang penulisan buku dari ide-ide Prof. Amin.

Ternyata, apa yang saya temukan jauh berbeda dari apa yang saya bayangkan. Bukan sekedar menulis, tapi ada banyak kegiatan yang terkait dengan pengayaan pengalaman hidup saya temukan di DFQ. Saya banyak belajar. Selain menulis kami diajari untuk bisnis, untuk menjadi pembicara, merumuskan modul-modul training, mengisi pengajian di masjid dekat rumah beliau, bahkan kami sering menjadi imam dalam shalat lima waktu di masjid itu. Pengalaman yang sungguh luar biasa, berbeda 100 persen dari hidup saya sebelumnya.

Pengalaman pertama bekerja bersama Prof. Amin, saya sempat kaget, sebab ketika masuk, saya dan beberapa teman yang waktu itu bersama-sama, kami diminta menghafalkan zikir al-Fatihah. Beliau menyebutnya, zikir hati. Bagi beliau hati harus khusyu’ dengan cara menyampaikan pesan dari makna yang terkandung dalam surat yang disebut ummul qur’an itu, agar darinya lahir kekuatan untuk menjadi pribadi unggul, tangguh, dan mulia. (Baca: The Power of Al-Fatihah)

Biasanya, setiap pagi, sebelum rapat, kami berkumpul bersama Prof. Amin dan membaca al-Fatihah berikut menyampaikan pesannya dengan bahasa hati. Walau bagi saya agak aneh, sebab tak pernah saya jumpai cara kerja seperti ini. Tapi saya memutuskan untuk menikmatinya. Dan justru dalam upaya menikmati apa yang saya kerjakan, di situlah saya menemukan banyak hal.

Satu-satu semangat hidup yang sempat hilang mulai lahir kembali. Saya merasa lebih bahagia, lebih tenang, lebih menghargai diri sendiri, orang lain, menghargai waktu, berani mengambil keputusan (dan salah satu keputusan terbesar adalah berani menikah, sesuatu yang belum terpikirkan sebelumnya), saya mulai menemukan potensi diri, menemukan apa yang menjadi kekuatan saya.

Prof. Amin mengajarkan bahwa apapun yang kita kerjakan adalah ibadah. Untuk itu dalam setiap zikir yang kita lakukan, selain berdoa, juga ada ikrar untuk mempersembahkan segala karya bakhti itu hanya untuk Allah, sebagai ibadah kita kepada-Nya. Maka sebagai wujud bhakti kepada Zat yang Maha Agung, karya-karya yang kita ikhtiarkan harus merupakan karya yang menghadirkan manfaat buat kepentingan hajat hidup orang banyak.

Satu hal yang membuat saya begitu merasa menyesal adalah, belum sempat mengucap terima kasih untuk semua jasa beliau kepada saya. Bersama beliaulah saya seolah terlahir kembali, diberi Allah melalui Prof. Amin kesempatan untuk hidup kedua. Bagi saya, Beliau bukan hanya pembimbing di kantor, tapi seorang guru, orang tua, kakak, sahabat yang selalu ada buat kami.

Pernah suatu kali ketika beliau ingin berangkat berobat ke Singapura, seperti biasa sebelum berangkat kami berzikir bersama membaca al-Fatihah dengan pesannya. Dan sebelum berangkat, saya ingin sekali memeluk beliau dan mengatakan terima kasih Prof, terima kasih Prof, terima kasih Prof. Sayang itu tak saya lakukan, saya malu, saya sungguh menyesal.

Kini, sosok luar biasa itu sudah Allah panggil menghadap-Nya, Rabu, 23 Juli 2014. Jasamu tak mungkin terlupakan. Semoga Allah mencatat semua itu sebagai jariyah bagimu. Terima kasih. Selamat jalan Prof. Amin.

[Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa'fu ‘ahu]

Julmansyah Putra
(Muridmu)



Ingin berbincang lebih lanjut, silahkan follow twitter saya di @julmansyah81
Sila berkunjung pula ke http://www.dfq-indonesia.org